Rintik Hujan Di Malam Hari

Rintik hujan meluruh pelahan
Membentuk butiran-butiran lembut
Yang menitik resah di kaca jendela
Dan membentuk lelehan bak airmata.

Semalaman aku menghayati makna
Dalam renungan memandangi kaca jendela
Sebentuk larapun menoreh hati
Menghayutkan fikiranku arungi ilusi semu.

Keberadaanmu selalu kupertanyakan
Meski ku sadar tanpa alasan
Namun toh selalu menjadi ingatan
Maafkan atas pertanyaanku.

Dan malam yang merepih
Dan rintik yang meluruh
Dan hati yang sunyi
Dan raga yang dahaga…

About these ads

16 Tanggapan to “Rintik Hujan Di Malam Hari”

  1. Salam Takzim
    Habis baca-baca puisi jadi ingin
    ngucapin
    SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1430H
    Semoga pengorbanannya keterima
    Amin
    Salam Takzim Batavusqu

  2. Salam Takzim
    Setelah mendengar butiran-butiran hikmah Idul Adha di masjid dan di tanah lapang, mari kita aplikasikan hikmah semangat berqurban kepada sesama dan kerja keras sekeras ibunda Hajar dalam mendapatkan setetes air cinta untuk Nabi Allah Ismail.
    Salam Takzim Batavusqu

  3. subandi kusuma Says:

    terusik hatiku mambaca puisimu….

  4. tinggal di kasih cord jadi lagu nih ^^

    lam kenal

  5. malam itu adalah aku aku yang meluruhkan semua suka
    memberi dahaga luka nestapa pada hidupnya
    patahan air mata yang kian habis terkiis oleh indah nya bintang bintang yang tetap menemani walou jauh jauh teramat jauh hingaa takan mungkin kembali ke bumi

  6. inspirasi motifasi

  7. Matahari masih belum mau bicara pada bumi
    Hatinya masih terlalu sakit
    Karena bumi lebih memilih bulan untuk menemaninya di malam hari
    Sementara aku hanya mengucek-ngucek sudut mataku
    Tanpa tahu apa-apa

    Matahari sepertinya mulai luluh
    Namun ia menangis
    Perlahan cahayanya menapak di sela-sela airmatanya yang berjatuhan
    Hujan pagi ini membuat aku pilu

    Di celah-celah jendela aku lihat dua anak berlarian
    Dalam hujan, namun hatinya riang
    Seorang wanita mengikuti dari belakang dengan wajah penuh murka
    Seperti ingin menerkam anak-anak itu, tapi ia takut akan hujan

    Sudut bibirku meninggi
    Namun mataku semakin berat
    Perlahan pandanganku buram
    Mataku bagaikan tanggul yang rapuh, siap menyemburkan air bah
    Hatiku pilu sepilu matahari
    Bersama-sama kami menangis melepaskan rasa kesal ini

  8. aku tidak membenci sunyi
    aku hanya tidak menyukai kesepian
    ada banyak sahabat untuk kudatangi, bercerita, berbagi …
    tapi kuurungkan.
    entah
    aku bahkan tak tau apa yang kuinginkan
    kalaupun harus bercerita, aku hanya ingin berdialog dengan sunyi
    bukan keluhan apalagi ratapan
    aku cuma ingin memupus sepi itu sendirian

    hanya aku dan kita saja yang terus bercerita
    dalam bilikbilik rahasia yang slalu kita pakai bersama
    ada senyummu
    menghiasi lembar-lembar kelamku

    hujan
    terus merembesi pakaianku yang berdebu
    kala titik bening itu menyelimutiku
    bersatu dengan dingin yang menusuk tulangku
    saksi bisu saat lidahku kelu

    terus menanti …
    kapankah sosok itu akan kembali?

  9. wanda kurniawan169

  10. re kholifah Says:

    kren….krennnnnnn

  11. Rintik hujan meluruh pelahan
    Membentuk butiran-butiran lembut
    Yang menitik resah di kaca jendela
    Dan membentuk lelehan bak airmata.

    Semalaman aku menghayati makna
    Dalam renungan memandangi kaca jendela
    Sebentuk larapun menoreh hati
    Menghayutkan fikiranku arungi ilusi semu.

    Keberadaanmu selalu kupertanyakan
    Meski ku sadar tanpa alasan
    Namun toh selalu menjadi ingatan
    Maafkan atas pertanyaanku.

    Dan malam yang merepih
    Dan rintik yang meluruh
    Dan hati yang sunyi
    Dan raga yang dahaga…

  12. Habis baca puisi,jadi teringas masa yng lalu.. Cukup miris,menyayat hati..

  13. Rintik hujan meluruh pelahan
    Membentuk butiran-butiran lembut
    Yang menitik resah di kaca jendela
    Dan membentuk lelehan bak airmata.
    Semalaman aku menghayati makna
    Dalam renungan memandangi kaca
    jendela
    Sebentuk larapun menoreh hati
    Menghayutkan fikiranku arungi ilusi
    semu.
    Keberadaanmu selalu kupertanyakan
    Meski ku sadar tanpa alasan
    Namun toh selalu menjadi ingatan
    Maafkan atas pertanyaanku.
    Dan malam yang merepih
    Dan rintik yang meluruh
    Dan hati yang sunyi
    Dan raga yang dahaga…

  14. Raen Naq SuZuran Says:

    Rintik hujan meluruh pelahan
    Membentuk butiran-butiran lembut
    Yang menitik resah di kaca jendela
    Dan membentuk lelehan bak airmata.

    Semalaman aku menghayati makna
    Dalam renungan memandangi kaca jendela
    Sebentuk larapun menoreh hati
    Menghayutkan fikiranku arungi ilusi semu.

    Keberadaanmu selalu kupertanyakan
    Meski ku sadar tanpa alasan
    Namun toh selalu menjadi ingatan
    Maafkan atas pertanyaanku.

    Dan malam yang merepih
    Dan rintik yang meluruh
    Dan hati yang sunyi
    Dan raga yang dahaga…!?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: