Pada Batas Penantian Malam

Seperti biasa…
Malam, gelap, sunyi, merintih.
Dan pujangga mulai bersyair
Juga para kekasih mulai merindukan kekasih..

Seperti biasa…
aku, sepi, sendiri, meronta.
Dan rindu kian bergelayut
Juga para pesakitan mulai menyelubungi pesakitan.

Namun,
Tak seperti biasa, malam yang menjurang ini,
kulewati batas penantian dalam kebekuan.
Hening berkabut galau.

Kalau saja kau tahu..
Tapi kamu selalu tak pernah tahu!
Hingga kusimpulkan kematian hati
Bahwa takdir bukan cuma bisa jadi milikmu!
Aku! Akupun sanggup meraih takdir,
meski tak harus bersamamu.

Jadi sepertinya kita pisahkan saja rindu ini,
agar sama-sama bisa mencari makna hidup
tanpa harus membelenggu siksa!

Sia-sia adalah putus asa
Dan kamu bukan asaku!
Cuma sekelebat asa yang sesat
Lalu pergi usai mencabik!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: