Arsip untuk Juli, 2016

Aku Dan Hujan

Posted in Poem's on Juli 12, 2016 by hanie ariena

Rintik hujan mengiring langkahku dikesunyian malam
Berkali kubasuh raut wajahku sendiri dari terpaan air
Kehangatan yang terasa menyentak imajinasi,
bahwa diantara butiran air hujan, terselip butiran airmata
Mengalir pelahan diantara kedua pipiku.

Beberapa kerumunan menaungi tempat berteduh
Mata mereka tertuju satu kearah kuberjalan
Sementara bibir mereka terkatup dipenuhi tanda tanya
“Kenapa tidak berteduh? Ada apa?”
(Mungkin seperti itulah tanda tanya yang mereka pendam)

Dan aku tetap melangkah
Apalah aku ini?
Perempuan lemah yang selalu mengalah!
Senyum pun mengembang…
Setidaknya kepergianku mematahkan kelemahanku!

Pada Malam Kumerindumu

Posted in Poem's on Juli 11, 2016 by hanie ariena

Pada malam terlantun senandung syahdu
Aku yang terdampar di sudut kehidupan
Mencoba mengais rasa dalam balutan luka
Sementara angin menitipkan kebekuan.

Sendiri aku langkahi pekat
Sendiri aku desahkan lelah

Dan pada satu titik penghujung malam
Kuukir namamu lewat kerlingan mataku
Aku merindumu..
Merindu mata tajammu
Merindu senyummu
Merindu kesalmu..

Namun aku tetap tertancap di sini
Diketerbatasan ruang dan waktu
Memohon pada sang malam
Agar rembulan mau memancar secercah sinarnya..

Musnah Dalam Rasa

Posted in Poem's on Juli 10, 2016 by hanie ariena

Bayangmu sempurna menyesaki lamunan
Elegi rindu pun kian meraup hati
Lalu sekelebat mata indahmu menghardik tajam
Oleh pendaman dendam terpicu amarah
Kuharap berhentilah sesaat meludahiku

Jarak antara kita terhalang ego tinggi
Aku dengan keakuanku dan kau dengan keangkuhanmu
Lantas hantaman keras kian merobek rasa yang ada
Umpatan demi umpatan pun bagai genderang perang

Kemana rasa kita akan melabuh damai?
Atau terputus oleh amarah?

Dan aku merapuh sendiri
Diantara luka dan serpihan luka..

Selamat Tinggal

Posted in Poem's on Juli 9, 2016 by hanie ariena

Dua kata menyesaki hati dan fikiranku
Kala langkah menyambangi ujung resah
Seperti angin menerpa pucuk dedaunan tua
Yang pada akhirnya luruh dan hancur…

Maafkan aku…
Aku bukanlah malaikat pelindung
Aku bukanlah bidadari surga
Aku hanya segenggam pasir rapuh

Dan ketika genggaman terlepas,
maka aku tiada berdaya, terlepas, hilang!

Maafkan aku…
Aku hilang dalam balutan luka
Aku lenyap dalam raungan malam..

Dua kata menyesaki hati dan fikiranku
“Selamat tinggal”